Welcome to the jungle


Selamat datang di blog IMUD, komunitas para penggemar turing roda dua di Balikpapan. Bebas tanpa ikatan namun lekat dalam persaudaraan. So, let's fire up the engine. Burn the wheels. Ride with pride and respect.

It's not about what you ride. It's not about what you wear. It's not about what you do. It's about BROTHERHOOD.

If you want to GO FAST, go alone.
If you want to GO FAR, GO TOGETHER
- Robin Jones Gunn -

























Saturday, 28 December 2019

IMUD Exploride: Jelajah Kaltara - Bagian 1



Mengakhiri agenda turing IMUD 2019, selama seminggu dari tanggal 21  - 27 Desember para Imuder kali ini berkesempatan menjelajah Kalimantan Utara. Tujuan utamanya adalah perbatasan Indonesia – Malaysia di Simenggaris. Walau hanya berkekuatan 5 orang rider, tim tetap semangat gaspol. 

Sabtu, 21 Desember. Cuaca cerah. Tim telah bersiap-siap dengan tunggangan masing-masing di Koplak cafĂ©, jl.Indrakila. Sekitar jam 8.30 tim Jelajah Kaltara Bro Dodo, Suzuki Inazuma – road captain. Bro Bayu – CBR 250 sebagai sweeper. Pakbro Edy kali ini dengan Yamaha NMax dan Bro Syaiful dengan Yamaha Byson. Sedangkan Bro Rudi dengan Ninja 250 hijaunya menunggu di Samarinda. Thanks buat pakbro Sunarjadi, Bro Jali yang menyempatkan melepas keberangkatan tim IMUD Jelajah Kaltara.   Juga buat bro Sahli yang menemani riding bareng hingga Samarinda. i Target riding hari petama adalah Muara Wahau, sekitar 400 km dari Balikpapan - menurut  info mbah Gugel. Tapi kenyataannya sepertinya kok lebih jauh ya....:)
 
Rehat makan siang di RM Kenari poros Samarinda – Bontang, lanjut hingga pertigaan Bontang – Sangata. Di sana brothers UnoRiders Bontang, sudah menunggu. Terima kasih bro atas suguhan kopi dan es kelapanya. Sekitar jam 4 sore tim lanjut ke Sangata ditemani bikers UnoRiders hingga lanjut ke Muara Wahau untuk bermalam. Cuaca menjelang malam mulai mendung, jalanan naik turun dan berkelok-kelok ditambah gelap gulita para riders cukup berhati-hati untuk menarik gas. Benar saja sekitar satu jam dari Wahau, hujan disertai angin turun dengan derasnya. Terpaksa berteduh di sebuah warung menunggu cuaca agak reda. Walau masih rintik, tim riding tengah malam hingga sampai di hotel NJ untuk istirahat. Rupanya bro Luciano dari YVCI Wahau sudah memantau sejak sore hari.




bersama UnoRiders Bontang


Sangata
 

Minggu 22 Desember. Setelah ngopi di tempat bro Luciano, tim berangkat menuju Tanjung Selor melalui Tanjung Redeb yang berjarak sekitar 326 km. Cuaca cukup cerah. Tim melaju di aspal yang lumayan mulus dengan kecepatan rata-rata 70 - 80 km/jam. Sekitar waktu magrib, tim memasuki kota Tanjung Selor. Di bantu oleh bikers Scoopy Bulungan (SOBC), tim menuju penginapan Hotel Neo City di sekitar pasar induk Bulungan. Setelah makan malam nasi uduk ikan lele plus pete yang maknyus, bareng bubuhan Scoopy  ngopi di cafe Labolong tempatnya para bikers Bulungan biasa berkumpul.



YVCI Wahau



Ngopi di kafe Labolong Bulungan
 
Senin, 23 Desember tim bersiap menuju Malinau. Rute Tanjung Selor - Tanjung Palas – Sekatak kemudian melewati simpang Tana Tidung - Betayau dan finish di Malinau. Apa daya tiba-tiba hujan turun. Baru sekitar jam 9  pagi hujan mulai reda dan tim pun berangkat dengan mengenakan jas hujan. Jalanan hampir semua beraspal mulus dan lebar. Hanya di beberapa ruas tampak sedang ada perbaikan. Sekitar jam 15 tim memasuki kota Malinau. Suasana kota cukup sepi karena bertepatan menjelang Natal keesokan hari. Di sini tim menginap di Hotel Mahkota, di pusat kota Malinau. Sore dan malam hari tim sempat bersilaturahim dengan Sekda Kab.Malinau, Bpk. Ernes Silvanus yang kebetulan satu almamater dengan bro Rudi di Universitas Mulawarman Samarinda.


Selamat datang di Malainau



Bersama Bpk Sekda Malinau

Selasa, 24 Desember. Setelah semalam mengumpulkan informasi dan istirahat cukup, pagi hari tim menuju Simenggaris, perbatasan antara Indonesia –Malaysia. Cuaca pagi ini sangat mendukung. Karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh – sekitar 185 km, tim riding tanpa bagasi dan hanya membawa perlengkapan pokok saja. Tim berencana untuk pulang hari ke Malinau.

Ketika keluar kota menuju desa Mansalong, tim kesulitan mendapatkan bahan bakar khususnya jenis Pertamax buat Ninja tunggangan bro Rudi. Diputuskan kembali ke kota dan sempat berputar-putar mencari kios BBM. Memang di Malinau ada pompa bensin Pertamina tetapi hanya buka sebulan sekali, itupun lebih banyak habis untuk melayani kebutuhan para pengecer. Beruntung bertemu dengan bro Ade biker YVCI Malinau yag membantu mencari BBM, walaupun tidak menemukan pertamax tetapi masih tersisa beberapa jerigen pertalite untuk si Ninja. Sisanya terpaksa minum premium. 

Dari kota Malinau menuju Simenggaris melewati desa Mansalong, Lumbis, Sebuku dan Tulin Onsoy. Jalanan didominasi aspal mulus berkelok-kelok naik turun. Kadang lurus membentang. Kanan kiri dipenuhi tanaman sawit dan juga pohon-pohon hutan tanam industri dari perusahaan swasta. Ditengah perjalanan mendekati Sebuku rupanya biker YVCI sudah menunggu. Sekitar satu jam ngobrol dengan bro Arifin cs. Di pos TNI Salang, Tulin Onsay tim sempat berhenti untuk beristirahat sambil ngobrol dengan bapak-bapak TNI yang bertugas. Sambutan mereka sangat hangat jauh dari kesan angker. Bahkan kami disuguhi teh hangat. Rupanya mereka berasal dari kesatuan Yonif Raider 600  Modang yang bermarkas di Manggar Balikpapan, sehingga ketika bertemu dengan sesama warga Balikpapan rasanya seperti bertemu dengan keluarga. Bayangkan saja, mereka bertugas meninggalkan keluarga hingga 6 bulan lamanya, bahkan mungkin lebih. Salut.

Mendekati Simanggeris, kami disusul oleh 3 orang biker YVCI Ujung Perbatasan dan dipandu hingga pos GABMA Indonesia-Malaysia. Pos perbatasan ini merupakan titik terluar yang merupakan perbatan Kaltara dan Sabah, Malaysia yang dijaga oleh gabungan TNI dan TDM (Tentara Diraja Malaysia). Simangeris sendiri masuk wilayah Kab.Nunukan, walaupun terpisah oleh sungai dan untuk mencapai Nunukan harus menyeberang dengan kapal melalui pelabuhan Sungai Ular. Puas rasanya bisa mencapai titik perbatasan NKRI-Malaysia ini. Sekali lagi, salut dan salam hormat kami buat TNI yang setia menjaga kedaulatan NKRI.  
  
Setelah puas ngobrol dengan bapak-bapak petugas TNI dan juga TDM, serta jeprat-jepret sana sini, sekitar jam 5 sore tim bergegas kembali ke Mainau dan tiba sekitar jam 9 malam.   


YVCI Sebuku







Komandan Pos Salang




TNI & TDM





IMUD & YVCI Ujung Perbatasan






 







 

Tugu perbatasan





 


Bersambung ke Bagian 2.....











Tuesday, 23 April 2019

IMUD Exploride 2019: Mandiangin



 
18 April malam, 10 orang biker Imud yang walaupun berbeda pilihan Capres memilih riding bareng meninggalkan hiruk pikuk pemilu yang baru saja berlalu. Ada Pakbro Junaidi – Honda Tiger, Dodo – Suzuki Inazuma, Bagus Saleh – CRF150,  Rudi – Ninja250, Eko – Yamaha MT25, Ali – Versys 250, Bayu – Z250, Edy – Nmax, Dikto – Nmax dan Pakbro Sunaryadi - MegaPro sang Road Captain. Selepas magrib tim menyebrang dengan ferry dari Kariangau menuju Penajam. Tiket 35 ribu rupiah per motor. Sekitar jam 9 malam tim meluncur menuju check point pertama di Batu Kajang untuk bermalam. 

Keesokan pagi sebelum jam 7 tim sudah meninggalkan Batu Kajang. Deru suara motor para Imuder membelah udara pagi yang dingin dan berkabut membuat perjalanan semakin mengasyikan. Tak lama tim tiba di perbatasan Kaltim Kalsel untuk rehat sejenak sebelum kemudian tancap gas lagi. Jalanan lumayan mulus tapi tetap berhati-hati karena di beberapa titik banyak lubang. Beberapa kali para rider tak sempat menghindarinya. Tiba di Tanjung sekitar jam 11 untuk refueling tunggangan. Menjelang tengah hari, tim sudah memasuki Kandangan. Sebelum menunaikan sholat Jumat, sepiring ketupat kandangan dan ikan haruan habis disantap. Segelas es teh mendinginkan hari yang panas.
Sesuai target, jam 5 sore tiba di simpang empat Banjarbaru. Tak lama hujan pun turun. Menikmati kopi Killiney sambil berbincang dengan Pakbro Rahmat - Kepala UPT Tahura Sultan Adam Mandiangin, Banjarbaru Kalsel yang sebelumnya sudah dikontak oleh bro Rudi. Sempat terbesit rasa pesimis karena hujan. Tetapi info dari Pak Rahmat tim tetap bisa naik dan berkemah sesuai rencana. 

Begitu hujan reda tim menuju ke Mandiangin dipandu oleh Pakbro Rahmat. Sebelum naik para Imuder dijamu makan malam di kantor UPT Mandiangin. Wah IMUD merasa jadi tamu kehormatan jadinya. Sekitar jam 21.30 para Imuder bergegas naik. Riding di pegunungan malam hari sungguh suatu pengalaman yang berbeda. Sampai di area camping ground pertama puncak Tengger di ketinggian 356 mdpl sudah ada beberapa tenda yang berdiri. Makin malam semakin banyak orang yang berdatangan.Suasana malam dari puncak Tengger sangat menakjubkan. Di kejauhan nampak kerlap kerip lampu kota Banjarbaru. Langit cukup cerah disinari rembulan. Kabut putih mulai merayap naik. Api unggunpun akhirnya menyala setelah berjibaku sekian lama. Kopi dan mi rebus pun dihidangkan. Ada juga yang terlelap tidur. 

Tak terasa subuh menjelang. Semburat jingga di ufuk timur mulai terlihat. Sungguh pemandangan  yang indah tiada tara. Seorang Imuder bilang, mungkin Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Mandiangin.



Pelabuhan Ferry Kariangau


Hotel Iman Batu Kajang
 







 



Sabtu pagi, sebelum meninggalkan Mandiangin menyempatkan naik ke puncak Repeater, begitu orang menyebutnya karena di sana terdapat pemancar radio. Berada di ketinggian 455 mdpl, puncak Repeater merupakan destinasi utama selain puncak Tengger untuk berkemah sekaligus menikmati panorama. Di kejauhan terlihat bendungan riam kanan dan juga riam kiwa. Angin terasa lebih kencang dibandingkan puncak Tengger. Karena itulah kenapa dinamakan puncak “mandiangin”….mungkin lho.
Selain dua puncak favorit Tengger dan Repeater, masih ada Mandin atau air terjun, pesanggrahan Belanda, penangkaran rusa, agrowisata, kolam Belanda, kebun botani dan juga plaza mandiangin. Sayang karena waktu yang terbatas para Imuder belum sempat mengunjunginya.
Sebelum berpisah dan sebagai ucapan terima kasih kepada Pakbro Rahmat dan tim yang telah menjamu para Imuder dengan luar biasa, sekaligus bentuk kepedulian terhadap lingkungan, IMUD tergerak  mengadopsi bibit pohon untuk ditanam di tahura Mandiangin. Semoga ke depan wisata Mandiangin makin maju.

 





Puncak Tengger









Puncak Repeater
Kompak bersama Pakbro Rahmat








Mengatasi masalah tanpa masalah


 
Rute pulang kali ini melalui jalur Martapura menuju Amuntai untuk bermalam. Sepanjang jalan langit mendung. Menjelang siang hujan pun turun. Hingga memasuki kota Amuntai sekitar jam 17 hujan terus mengguyur.
Minggu pagi 21 April, cuaca cukup cerah tim bersiap menuju Balikpapan. Seperti biasa makan siang di warung gandul favorit para peturing, di simpang Kuaro. Lanjut gas hingga pelabuhan ferry Penajam sekitar jam 16. Alhamdulillah memasuki waktu maghrib tim tiba dengan selamat di Balikpapan.  



Briefing di Hote Balqis


Bebek-bebek alabiu


Wajah hepi...besok kerja lagi

  
Mission accomplished.
Well done brothers!